Kumpulan Pernah

Menyelami Kontradiksi Inheren bersama Nietzsche

Posted in Uncategorized by Lisistrata on August 17, 2012

Image“Ketika Nietzsche menangis”, Apa kira-kira yang diteriakkan oleh air matanya?

Kisah ini dibuka dengan sebuah pertemuan dan permohonan bantuan dari seorang perempuan bernama Lou Salome pada Breur. Lou Salome meminta Breur untuk membantu menyembuhkan Nietzsche dari sakit, yang menurutnya bersumber dari kondisi psikologisnya, karena ia dengar Breur memiliki metode penyembuhan dengan saling berbicara, atau yang disebut “talking cure”. Lou Salome merasa bersalah sekaligus bertanggung jawab atas apa yang telah ia alami bersama Nietzsche. Selain anggapan bahwa Nietzsche akan memberi banyak pengaruh dalam peradaban, ia juga pernah menolak permintaan Nietzsche untuk menikahinya. Dari situlah Lou merasa bersalah sekaligus bertanggung jawab hingga ia datang pada Breur.

Karena kecantikan, keanggunan serta kecerdasan Lou, Breur pun seolah tak punya daya menolak permintaannya, seperti yang tersurat pada ungkapannya yang ia sampaikan ketika makan malam bersama Freud,”bahkan ia bisa menyuruh kuda untuk bertelur”.

Pada mulanya Breur berusaha menggali berbagai informasi terkait dengan penyebab keputusasaannya dalam hidup, sambil membaca karya-karya Nietzsche, untuk lebih menyelami pemikirannya. Akan tetapi Breur justru mendapat pengaruh setelah membaca karya-karya Nietzsche. Beberapa hal yang selalu ia coba tampik dan tolak keluar melalui mimpi hingga saat keadaan sadar memaksanya untuk merefleksikan lagi. Dari situlah ia meminta Nietzsche untuk melakukan terapi padanya, sebagai upaya penyembuhan. Mereka pun membuat kesepakatan untuk  “menyembuhkan”.

Interaksi antara Breur dan Nietzsche merupakan hubungan antara dua jenius yang kompleks, rumit dan saling menganalisa. Ada proses identifikasi diri dari setiap persoalan, serta upaya dalam membuka kontradiksi yang sering kali menjadi bagian dari diri, kemudian mendamaikannya. Hal ini terkait dengan metode penyembuhan pasien penderita histeria yang dikembangkan oleh Breur, dan sering kali dikomunikasikan secara intens dengan Freud dan saling memberi masukan. Metode penyembuhan saat itu yang dipakai ialah hipnotis. Dengan menghipnotis pasien, maka beberapa hal yang selama ini terepresi akan keluar, kemudian di situlah kebebasan didapat. Akan tetapi, jika ditinjau lebih jauh metode tersebut tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Karena ketika pengaruh hipnotisnya tidak ada, maka proses represi tetap berjalan.

Dari upaya pembebasan terhadap hasrat yang selalu coba direpresi dan ditekan, Breur yang aktif melakukan komunikasi dengan Freud akhirnya sampai pada suatu hal yang disebutnya integrasi. Yang dimaksud dengan integrasi disini ialah integrasi antara alam sadar dan alam bawah sadar. Keduanya diintegrasikan pada satu ruang dan waktu secara bersamaan tanpa menonaktifkan salah satu unsurnya.

Dilihat dari latar belakang masing-masing, antara Breur dan Nietzsche, terdapat kontradiksi yang cukup tajam dalam hal pilihan hidup. Breur hidup dalam keamanan dan kenyamanan seperti yang ditawarkan oleh kebanyakan, sedangkan Nietzsche berada di seberang jauh. Keduanya memiliki hasrat atas apa yang tidak mereka miliki. Mereka pun saling menyelami. Lebih dari itu, kontradiksi tidak hanya berada diantara kedua orang tersebut, akan tetapi pada diri masing-masing. Nietzsche dalam beberapa hal memuja kebebasan, akan tetapi dalam hal lain juga mengingini kenyamanan yang sering kali tidak sejalan dengan kebebasan. Di sinilah pertanyaan seputar hasrat mengambil perannya. Pertanyaan seputar hasrat tersebut kemudian dihubungkan dengan cinta. Ketika Nietzsche jatuh cinta, ia berhasrat untuk selalu dekat dengan apa yang membuatnya sedikit mengurangi hal-hal yang membuatnya terjebak pada kekhawatiran hidup.

Yang menjadi latar belakang masa pada kisah ini ialah masa dimana Nietzsche sedang berusaha merumuskan manusia super, Zarathustra. Pemikiran Nietzsche seputar manusia super yang ia gambarkan pun banyak mempengaruhi proses saling “menyembuhkan” yang dilakukan bersama Breur. Begitu juga Breur yang juga menaruh perhatian pada upaya penyembuhan psikologi yang banyak melakukan komunikasi dengan Freud dalam mengembangkan psikoanalisa, hingga mereka menemukan “integrasi” sebagai ungkapan dalam menghubungkan antara hasrat yang dibiarkan muncul dan coba ditekan.

Air mata Nietzsche seolah dituangkan dalam alur cerita yang berisi seputar rumitnya hubungan antar manusia beserta segala kontradiksi, serta proses belajar dan menemukan yang sering kali menyakitkan. Manusia, selalu diikuti motivasi dan hasrat dalam melakukan sesuatu, dalam interaksi dengan manusia lain, tidak terkecuali dengan mencintai.

 

 

Advertisements

Lacan, Teks dan Kontradiksi*

Posted in Uncategorized by Lisistrata on August 17, 2012

 

 

 

 

Psikoanalisa Lacanian dalam tradisi analisis tekstual pada dasarnya bertujuan untuk menganalisa mekanisme kerja unconscious desires yang mewujud dalam teks, melalui bahasa. Oleh karena itu fokus dari kritik lacanian, tidak terletak pada sifat unconscious dari tokoh atau penulis, akan tetapi pada teks itu sendiri, serta pada teks dan hubungannya dengan pembaca.

Psikoanalisis Lacanian mempertanyakan asumsi yang mengatakan bahwa manusia merupakan makhluk yang objektif dan rasional, sehingga apapun yang kita lakukan, berdasarkan dorongan yang sifatnya logis dan rasional. Fokus yang menjadi perhatian psikoanalisa pun ditempatkan pada apa yang tidak logis, irasional serta unconscious. Psikoanalisa menaruh perhatian pada aspek-aspek tersebut yang termanifestasi dalam aktivitas berpikir dan berperilaku yang tidak bisa kita ukur dengan ukuran-ukuran rasional dan sadar.

Seperti halnya membaca Freud, membaca Lacan bisa merubah cara kita berpikir terkait dengan diri kita dan lingkungan sosial dimana kita tinggal. Apa yang ditulis oleh seorang psikoanalis yang sangat sadar akan ketidaksadaran yang mempunyai daya dalam menggerakkan berbagai indera, bukanlah teks sederhana. Kesulitan sudah pasti ditemukan dalam karya aslinya. Belum lagi, sebagaimana pemikir inovatif lain, teori Lacan tidaklah statis, namun dinamis, bergerak dan berubah serta berkembang semasa hidupnya. Oleh karena itu, konsep-konsep yang digunakan Lacan pun memiliki beberapa level makna yang berbeda mengikuti perkembangan pemikirannya. Karena alasan inilah, pendefinisian sederhana atas istilah-istilah Lacanian tidak mungkin dilakukan.

Kesulitan yang bisa didapat dalam membaca teks Lacan ini salah satunya juga dikarenakan oleh gayanya, yang memang didasarkan pada hasrat supaya tidak mudah dibaca, supaya pembaca tidak mudah melakukan assimilation dan recuperation atas ide-idenya.

Aspek kedua yang menyebabkan tulisan Lacan sulit dipahami ialah karena objek kajian Lacan, yakni ketidaksadaran. Menurut Freud, unconscious merupakan wilayah yang tak lekang oleh waktu dan penuh dengan kontradiksi, unconscious merupakan ruang yang tidak mengenal syntax ataupun grammar. Lalu pertanyaannya sekarang ialah bagaimana kita bisa membahas atau membicarakan hasrat dan keinginan yang tak terkatakan?

“to speak of unconsious desire is to render it conscious and the unconscious, by definition, is that which is excluded from and cannot be recalled to consciousness. The unconscious, in other words, is that which is excluded from language.”

Kondisi paradoks inilah yang selalu menyisakan dilema. Bagaimana kita bisa membicarakan unconscious wishes and desires jika tidak dibahasakan?

Menurut Freud, mekanisme kerja unconscious bisa dideteksi melalui kekhawatiran dan phobia, kita juga bisa mendeteksi efeknya melalui mimpi, gurauan, slips of the tongue dan karya seni. Dengan kata lain, kita bisa mendeteksi mekanisme kerja unconscious ketika alam sadar kita dalam kondisi lemah (tidak waspada) dalam melakukan represi atas hasrat dan pikiran yang tidak dikehendaki.

Lacan juga sibuk dengan paradoks yang selalu dihadapi oleh psikoanalisa. “if we can say that psychoanalisis is the discourse of the unconscious, or a discourse upon the unconsious, it is a discourse that rests upon something that is always beyond itself. His style is one of the ways in which he addresses the issue in the sense that his writing is an attempt to say what is essentisally unsayable. In short, Lacan tries to articulate through the structure of language something that remains beyond language itself: the realm of unconscious desire.”

*yang menjadi latar belakang dari tulisan ini ialah keresahan saya dengan beberapa penelitian tekstual yang secara tidak tepat menggunakan psikoanalisa sebagai metodologi, terutama di departemen sastra inggris tempat saya belajar dulu! 

 

 

 

Atas Nama Kebebasan Berekspresi, Ideologi Tak Lagi Seksi

Posted in Uncategorized by Lisistrata on October 7, 2011

Atas nama kebebasan berekspresi, ideologi tak lagi seksi

Dalam beberapa hal, jaman dan wacananya mampu melabeli perilaku orang. Dari sinilah tubuh-tubuh individu mendapat kontrol dan pengaturan diri, yang masuk melalui kesadaran dan ketidaksadaran. Kemudian kita mendapat pertanyaan perihal kebebasan. Dimana letak kebebasan, jika kesadaran dan ketidaksadaran kita bisa dikuasai oleh wacana yang berada dari luar kita?Jean Paul Sartre, seorang filsuf eksistensialis, mengatakan bahwa manusia dikutuk untuk memiliki kebebasan, dan kebebasan manusia ialah kebebasan untuk menjadi gelisah. Poin gelisah manusia inilah yang kemudian diolah dan dipertemukan secara dialektis dengan ontologi, yang kemudian melahirkan suatu telaah kedalaman diri, yang tentu saja tidak lepas dari persoalan politik. Ribuan lembar telah dihasilkan dari pengolahan kegelisahan manusia dan aspek politik yang melingkupinya. Pembahasan pun tidak bisa disajikan sekali jadi secara instan. Namun setidaknya, ada seni yang menghadirkannya.
The lives of Others, sebuah film yang berlatar tempat di Jerman Timur sebelum runtuhnya tembok Berlin. Dengan interpretasi tunggal atas sosialisme, rejim pun mengatur aktivitas seni dibawah satu panji politik, sosialisme. Rejim diwakili dengan hadirnya mentri kebudayaan yang mengatur aktivitas seni dan budaya secara terpusat, yang berkolaborasi dengan badan keamanan negara. Berbagai cara dilakukan oleh institusi tersebut untuk mengawasi dan mengendalikan aktivitas warganya. Segala hal yang dilakukan warga tidak boleh bertentangan dengan garis partai dan rejim, termasuk aktivitas seni, serta kebebasan berekspresi yang menyertai.
Dari latar sosial dan politik seperti ini, hiduplah seorang penulis naskah bernama Georg Dreyman dengan karya yang cukup dikenal politis. Sehingga karya dan kesehariannya menjadi perhatian rejim. Perhatian dan pengawasan rejim pada Dreyman sudah menjadi pembuka awal film ini, sehingga masih ada perkara di kepala saya, yakni seputar motivasi yang mendasari aksi mentri kebudayaan untuk mengawasi dan akhirnya mengutus salah satu agen untuk menyadap kehidupan Dreyman. Secara garis besar, ide yang sepertinya ingin didorong oleh jalan cerita film ini ialah bahwa rezim totaliter bertolak belakang dengan kebebasan berekspresi. Sosialisme totalitarian bertolak belakang dengan kebebasan berekspresi dari para seniman yang diwakili oleh Dreyman dan komunitas seninya.
Namun setelah saya sampai pada penghujung cerita untuk kedua kalinya dan membaca review yang ditulis oleh Zizek, saya setuju untuk mengutip kritik Zizek terhadap film ini pada aspek penokohan dua karakter utama, yakni Dreyman dan mentri kebudayaan. Bagi Zizek, film ini tidak benar-benar mampu menangkap kekejian rezim sosialisme totaliter. Salah satunya ditunjukkan oleh penokohan mentri kebudayaan. Dalam film ini, mentri kebudayaan digambarkan sebagai seorang yang bermental korup. Seseorang yang memanfaatkan kapital sosialnya untuk mengancam dan berbuat semaunya terhadap Christa-Maria. Christa-Maria ialah seorang aktris yang juga istri dari Georg Dreyman. sehingga dari sini tertangkap kesan bahwa motivasi dari mentri kebudayaan tersebut untuk menyadap dan mengawasi hidup Dreyman, salah satunya dilandasi motivasi personal yang tidak ada hubungannya dengan ideologi sosialisme yang ingin digambarkan menjadi ideologi dominan dan totaliter.
Seandainya mentri kebudayaan dihadirkan sebagai tokoh yang secara personal memiliki kejujuran dan memegang nilai kemanusiaan yang universal, teror dari rejim FDR pasti lebih jelas terlihat. Singkatnya begitulah kata Zizek. Dalam uraiannya tersebut ia memang mampu menemukan titik lemah dari bangunan naratif film yang disusun dari berbagai aspek ini. salah satunya ialah dari elemen penokohan tersebut.
Namun jika dilihat dari elemen lain, dari gambaran tokok Wiesler, seorang agen yang ditugasi menjadi pengawas dan penyadap keseharian Dreyman, kita mendapat peran seni ditengah teror dominan wacana. Pada mulanya Wiesler digambarkan sebagai agen yang mematuhi kehendak penguasa dan berada di pihak penguasa. Ia pun bekerja dibawah kendali mentri kebudayaan untuk mengawasi secara ketat keseharian dan aktivitas Dreyman bersama komunitasnya. Karena intensitas pengawasannya, terlibat dalam kehidupan Dreyman menjadi tak terhindarkan. Ia mulai membaca puisi dan karya sastra. Tidak digambarkan secara jelas memang, proses yang mengubahnya tersebut. Dan rupanya ini menjadi bagian dari alur cerita, untuk menyimpan keputusan Wiesler di akhir cerita. ketika pada akhirnya Wiesler menunjukkan aksinya berpihak pada apa yang dilakukan Dreyman.
Pada saat itu, Dreyman menulis secara sembunyi untuk majalah Jerman yang cukup ternama, Der Spiegel, tentang tingginya angka bunuh diri yang berhubungan dengan teror yang disebarkan oleh penguasa. Ia menulis menggunakan mesin ketik berukuran kecil yang diselundupkan dari Jerman Barat. Mesin ketik tersebut digunakan untuk mengelabui penguasa, agar penguasa tidak menemukan bukti bahwa ialah yang menulis artikel tersebut. Dan mesin ketik kecil inilah yang kemudian disembunyikan oleh Wiesler, ketika dilakukan penggledahan dirumah Dreyman. Pada bagian akhir kisah inilah Wiesler menunjukkan keberpihakannya pada Dreyman yagn tadinya diawasi dan disadap. Dengan melindungi Dreyman, ia pun kehilangan pekerjaannya sebagai agen rahasia, dan akhirnya menjadi pegawai pengantar surat.
Dari perubahan karakter ini secara tidak langsung bisa kita tarik sebuah peran seni dalam menggerakkan manusia untuk berbuat sesuai dengan dorongan kemanusiaannya. Alih-alih menjalankan tugas sebagai agen rahasia negara untuk menangkap orang yang tidak patuh pada ideologi dominan, ia malah melindunginya dan mengambil resiko yang cukup heroik, yakni kehilangan pekerjaan. Peran seni untuk memanusiakan manusia dan mendorong manusia bekerja berdasar hati nurani memang terdengar klise. Tapi setidaknya dari sini kita bisa mendapati sebuah ide yang setidaknya menjawab pertanyaan kita diatas, yakni tentang letak kebebasan manusia ditengah kuasa wacana.
Ideologi dominan digambarkan mampu menguasai kehidupan masyarakatnya, yang ditopang oleh lembaga resmi. Dan wacana itulah yang menguasai tubuh dan pikiran Wiesler pada mulanya. namun, klisenya, seni akhirnya membuatnya melawan dominasi wacana yang sempat tertanam pada dirinya tersebut. Ideologi dominan tidak lagi menguasainya karena ia akhirnya menemukan media negosiasi dan beralih keputusan.
Dari plot besar yang dihadirkan cerita ini, Ideologi digambarkan sebagai kuasa yang tak lagi seksi ketika dihadapkan dengan kebebasan berekspresi. Padahal ketika kita tarik ke belakang, ideologi sosialisme lahir dari kebebasan berpikir juga di tengah tekanan dominasi wacana lain, diantaranya ialah kapitalisme. Saat itu sosialisme dengan beragam variannya cukup menarik karena menawarkan suatu alternatif sistem kehidupan yang lain. Praktik sosialisme dan komunisme totaliter memang telah menjadi latar yang menghasilkan banyak pemikiran kritis yang tidak akan berhenti. Dan di tataran yang lebih personal, ini menyangkut perkara kebebasan dan paradoks yang ada didalamnya (yang butuh pembahasan khusus).
Setidaknya, The Lives of Others menjadi salah satu film yang menarik perhatian saya karena bisa menjadi media dalam mempertanyakan persoalan kebebasan dan paradoks yang ada didalamnya. dan ini hanyalah salah satu awal!

Comments Off on Atas Nama Kebebasan Berekspresi, Ideologi Tak Lagi Seksi

Leiden kali ini, cukup di hati

Posted in Uncategorized by Lisistrata on May 5, 2011

Pagi kali ini, bukan alarm atau ibu yang dengan ragu membangunkanku, tetapi hujan. Derasnya teramat sangat sampai saya terbangun dan secara spontan menyelimuti buku-bukuku. Setelah beberapa saat baru tersadar kalau itu tidak perlu. Ibu yang biasanya membangunkanku dengan ragu, karena melihat tidur saya yang super lelap, seperti orang mati, hingga mimpi pun serasa nyata, kali ini tidak berkata apa-apa saat aku terbangun dengan paniknya, karena sudah terbiasa. Seperti kakakku katanya, “kamu dan kakakmu itu kalau bangun, langsung melek dan nubras-nubras”.
Hujan diluar dan dingin di dalam, kataku dalam hati sambil menyiapkan kopi dan menyalakan sebatang rokok, menghidupkan laptop. Sambil berkomunikasi dengan beberapa calon konsumen, mouse di tangan ini tergerak untuk membuka folder yang menyimpan foto dan gambar saat aku di Leiden. Entah karena hujan yang konon selalu hadir dengan melankolia, atau dinginnya yang mengingatkan tubuh pada suhu kamarku ketika di Leiden. Sempat beberapa saat kusengaja untuk menikmati ingatan pada sebuah masa ketika aku masih di kota itu. Belum lama memang. baru setahun lalu. Pada bulan dan tanggal yang sama tahun lalu, kira-kira apa yang saya lakukan disana. Entah pergi kursus pada pagi hari, atau kalau itu akhir pekan, berarti saya berjalan, kadang keluar kota, ke luar belanda atau sekedar di dalam kota Leiden, menelusuri kanal menuju perpustakaan kota, sambil sesekali memesan capucino tanpa gula dan menikmati apple pie atau apple strudel kesukaanku.
Leiden saat itu, menjadi kota pertama tempat tinggalku setelah Jogja. Kota yang juga menjadi gerbang untuk menikmati kota-kota lain di sekitarnya. Tidak ada yang salah dengan Jogja, Leiden atau kota-kota lainnya. Kota tidak pernah salah. Hanya saja kekosongannya seringkali membuat kegaduhan luar biasa. Tiap kota selalu memiliki kagaduhan dan ketenangannya masing-masing, yang membuat pertemuan dan perpisahan menjadi tidak sederhana dan sering kali rumit.
Teringat Leiden akan diikuti dengan ingatanku pada beberapa orang yang tidak terlupakan. Yang pertama ialah seorang travel lunatic benama Rita Sri Suwantari, yang membuat perjalananku ke Eropa tidak sekedar dalam angan. Just don’t know how to thank her., sebagai sesama penggila perjalanan, saya ini belum ada apa-apanya. Traveler manapun akan menjadi newbie dihadapannya. Bukan hanya jam terbang atau jumlah negara yang disinggahinya yang menjadikannya pantas disandingkan dengan para traveler kelas kakap, akan tetapi cara dan tujuan perjalanannya bisa dikatakan lain dari turis kebanyakan yang sering kali terlihat konyol bagi kami; melihat bebatuan, foto genit dan sok gagah, diunggah di fb, selesai sudah, secara sarkas bisa saja saya katakan demikian untuk menggambarkan turis-turis ahistoris. Biarkan saya sedikit sarkastis dengan model wisata yang seperti itu, karena selain mengeksploitasi eksotisme, memperkuat hirarki budaya, meneguhkan stereotype yang tidak adil antar ras, juga menjaga dominasi hingga pada tataran mental. masya allah.
Namun Rita lain, perjalanan ke Eropa bukan untuk menghilangkan penat sebagaimana kebanyakan turis. Akan tetapi sebagai alternatif hidup. Bukan pula untuk keluar dari rutinitas, karena perjalanannya pun menjadi suatu rutinitas yang lain. Tidak tanggung-tanggung kalau lady traveler ini bepergian. Bisa beberapa bulan dan cukup militan. Bagaimana tidak, saya ingat salah satu ceritanya, Rita rela bangun pagi buta ketika di Roma supaya tidak berdesakan dan mendapat gambar yang maksimal. Selama perjalanannya pun ia tidak hanya menikmati keindahan fisik kota dan bangunan atau alam liarnya. Kerja pun tidak ragu dilakukan, mulai dari mengajar bahasa indonesia atau apa saja.
Tetapi tentu saja, tulisan ini tidak dibuat untuk memberikan puji dan puja pada travel lunatic yang membawa saya sampai Leiden itu. Ia pun juga kadang membuat saya sebel dengan hobi makannya yang sering melibatkan saya dan walhasil membuat lipatan di perut saya bertambah.

Ada banyak hal yang kami lewati bersama, mulai dari wisata sederhana yang kami ciptakan sendiri kala itu di Lisse, kerja srabutan apa saja dan chips kentang kesukaan kami sampai sekarang membuat Leiden tetap dihati. Tak lupa juga umpatannya ketika sedang banyak kerjaan dan dalam kondisi hectic, “jiamput!” hehehe.. Sekarang mungkin Rita sedang berbahagia bersama patner barunya, Lutfi. Hah,. Awas koe yo ndel, nek ra bagi-bagi crito!!
Satu hal pasti dan paling berharga ialah tentang kesempatan dan kemungkinan. Ia salah seorang yang mengingatkan akan beribu kemungkinan untuk bepergian. Sederhananya,”banyak jalan menuju Roma”. Meski saya belum sampai Roma seperti Rita (karena dalam beberapa hal kita masih memiliki perbedaan minat dalam memilih kota tujuan wisata kami), tapi itulah yang tidak pernah saya lupa, setidaknya dan seiyanya .
Bepergian, berpetualang, mengunjungi tempat-tempat yang memberi kejutan atau yang hambar-hambar saja, memang sungguh adiktif. Ada kesunyian dan kegaduhannya masing-masing yang memunculkan ribuan kata sifat di kepala dan di dada. Apalagi pertemuan dan perpisahan dengan beberapa pribadi disana-sini. Sungguh membuat luapan-luapan tertentu yang membutuhkan wadah tertentu, dan tulisan ini mungkin salah satunya. Belum lagi ketika membaca lagi beberapa tulisan dan kesaksian rasa yang pernah saya buat atas interaksi yang saya dapati saat di Leiden. Selain Rita, ada seorang pemuda yang jauh lebih keren daripada Justin Bieber bagi saya. Ya,, siapa lagi kalau bukan Yinka Adekoya, my partner in crime 😉 Seorang yang banyak berbagi hari, coklat dan ice cream bersama saya. Tidak ada yang lebih saya rindukan selain mendengarnya berbahasa Indonesia dengan aksennya yang tidak kaku dan tetap saja lucu. Kemampuan belajarnya berbahasa sungguh membuat saya inferior . Selain kemampuan lainnya yang didapatnya dengan cepat. Yinka, seorang anak yang dalam beberapa hal sering merasa inferior dan memelihara sepinya, sekaligus berprestasi pada beberapa bidang. Kalau soal nge-dance, Justin Bieber lewat!! Viva Yinka Mandela!!

Mengingat Leiden, Rita dan hal-hal lain yang tidak selesai, saya selalu diajak untuk mengingat dan bercakap dengan perjalanan dan petualangan yang membuat kami selalu merasa muda. We’re young and restless, we’re gonna conquer the world!! (Hehe lebay dan narsis dikit tak apalah). Bukan apa-apa saya kalau dibandingkan dengan travel lunatic ini, bisa dikatakan genre perjalanan kita mungkin sedikit lain. Semisal ketertarikan saya pada wisata alkohol dan tempat yang memiliki kaitan secara langsung dengan komunisme, Kafka atau Rosa Luxemburg membuat saya mengarah pada perjalanan yang jika didengarkan seperti lagu-lagu flaming lips, sigur ros dan bjork, mendekatkan rasa pada pengalaman psychedelic dan (yang ini agak berlebihan, tak apalah tulisan ini) dunia post-ritme. Ada beberapa ritme hidup yang secara sadar memang saya tolak, meski dengan itu saya ciptakan ritme lain. Rita pun saya pikir juga demikian. Hari-harinya tidak seperti kebanyakan lagu yang easy listening. Beberapa hari disini, beberapa minggu lagi disana. Beberapa saat lagi entah dimana. Itu hanya salah satu yang menggambarkan ritme hidupnya yang tidak biasa. She said she’s living on a jetplane.
Semoga di lain waktu, masih bisa kusambung tulisan yang ngk seberapa ini, di tengah kegiatanku yg bagi kebanyakan sangat membosankan, baca buku, tugas kuliah, baca buku lagi, paper dan diskusi. Selain Leiden, Rita dan Yinka, masih banyak yang membuat saya kali ini berupaya menghadirkan kalian, meski hanya di hati dan ingatan. Perjalanan dan pelajaran didalamnya tidak akan pernah menghentikan kita atau siapa saja. Meski saat ini saya tidak berjalan jauh. Jogja dan kesempatan saya belajar secara formal tentang politik budaya juga saya maknai sebagai perjalanan wacana, yang sudah kuingini sejak lama.
Tidak bosan-bosannya sekali lagi kuulangi, kalau Ritalah seorang yang mengingatkanku akan banyaknya kemungkinan dan alternatif dalam memilih jalan dalam hidup, karena perjalanan pun demikian, yakni bagaimana berkomunikasi dengan diri dan sekitar. Dalam perjalanan dan kondisi when i was nowhere, since it was in the middle of one place to another, i’m sometime surprised by myself. dan diantaranya untuk itulah saya ingin berterimakasih!!
Karena perjalanan tidak akan membuat kita tua, kuucapkan Selamat Ulang Tahun mbak Rita!!! Sampaikan salam saya yg dari hati ini, pada Leiden, perpus kota, tak lupa Peggy, Yinka dan oma, opa, juga Ika.

Mengapa Milena, Kafka?

Posted in Uncategorized by Lisistrata on February 11, 2011

 

Berawal dari tanya. Itulah yang menjadi awal dari ketertarikan saya atas sesosok wanita sunyi bernama Milena. Sebuah tanya yang pernah saya ajukan pada Kafka ketika pertama kali menyinggahi kota serta ruang yang menyimpan serpih kenangannya kala itu di Praha. Tanya itu kemudian menggandeng saya menuju suatu waktu ketika Kafka hidup, untuk sedikit menilik dan berbincang sederhana dengannya, melalui kisah hidup dan beberapa cerita seputarnya. Sambil menyapa Milena tentu saja. Ya, ini tentang Milena dan Kafka.

Di rumah kenangan Kafka yang menyimpan berbagai kepingan kisahnya semasa hidup itu, terdapat pula sekelumit kisah cinta dan hubungannya dengan beberapa perempuan. Satu dari sekian banyak perempuan yang ada di sekeliling Kafka yang sempat mencuri perhatian saya pada saat itu, yakni Milena. Hubungan Kafka dengan Milena pada saat itu digambarkan secara singkat dan memantik sebuah tanya yang luar biasa. Milena disebut sebagai seorang jurnalis sekaligus penerjemah yang menerjemahkan karya Kafka ke dalam bahasa Ceko untuk pertama kalinya. Selain itu ia juga disebut sebagai seorang perempuan cerdas yang meski sangat dicintai oleh Kafka, akhirnya ditinggalkan olehnya. Sama halnya dengan Milena. Meski akhirnya mereka tidak bersama dalam sebuah hubungan cinta sebagaimana manusia pada umumnya, Milena tetap mencintai Kafka hingga akhir hayat. Setidaknya itulah yang tertulis tentang mereka di Museum Franz Kafka.

Barangkali, tanya yang sempat muncul di kepala saya ini karena dipantik oleh satu dari sekian konsep tentang cinta yang pernah menempel di kepala setelah membaca salah satu novel karya Milan Kundera yang juga dari Praha. Dalam novelnya yang berjudul The Unbearable Lightness of Being, narator dalam cerita percaya bahwa cinta pada dasarnya hanya menuntut kebersamaan. Konsep sederhana itulah barangkali yang sempat mampir ke dalam kesadaran saya hingga akhirnya memicu tanya ketika terbentur dengan konsep lain seperti yang dijalani oleh Kafka dan Milena.

Bagaimanapun juga apa yang tertera pada salah satu etalase dari Museum Kafka tersebut ialah sebuah teks. Kemudian hadirnya teks akan selalu menuntun kita pada pertanyaan berikutnya. Apakah teks tersebut hadir sebagai medium untuk merepresentasikan suatu kisah, atau justru memiliki kisahnya sendiri, karena pada dasarnya, teks juga memiliki daya untuk menciptakan kisahnya sendiri, tidak sekedar menghadirkan kisah yang sudah ada.

Terlepas dari sifat teks diatas, setidaknya sosok Milena menarik untuk dikenal lebih jauh. Mengapa Milena menjadi sosok yang dicintai Kafka dengan cara yang tidak seperti pada umumnya tersebut, serta mengapa Kafka memilih cara yang demikian terhadap Milena, kurang lebih akan membawa kita pada beberapa konsep dan pandangan hidup Kafka tentang cinta.

Perihal cinta kiranya sudah tidak aneh lagi untuk dibahas, seakan tidak ada habisnya dan bisa dilakukan dengan beribu kemungkinan dalam mendekatinya. Namun masih menarik kiranya ketika hal ini dibaca sebagai salah satu elemen yang ada dalam cara pandang, karya dan hidup Kafka yang sungguh tidak sederhana, menyimpan kompleksitas serta kesakitan luar biasa jika dibaca dengan sudut pandang tertentu. Atau justru sebaliknya, perihal cinta macam ini biasa saja. Meski dari kisah Milena dan Kafka ini terpancar sebuah ironi mendalam yang selalu membayangi kesehariannya.

“…the most beautiful thing that ever happened in my life.”

Itulah yang ditulis Kafka perihal gairah cintanya pada Milena selama menjalin hubungan cinta tanpa bertemu muka selama dua tahun, hanya melalui surat. Namun mengapa ia pilih meninggalkannya, alih-alih hidup bersama. Bukankan cinta menuntut kebersamaan atau ada hal lain yang mengganggu Kafka?

Bagi Kafka, sosok Milena sangat menggairahkan. Meski di sisi lain ia juga sadar bahwa kegairahan yang dimiliki Milena terlebih karena cinta Milena pada suaminya, Ernst Polak. Menyadari hal tersebut, ditambah lagi dengan rentetan kisah cinta Kafka dengan beberapa perempuan sebelum Milena, ia akhirnya mengambil sikap realistis, yakni untuk mengakhiri apa yang telah dijalani mereka berdua.

Kafka yang gundah dan galau selalu dekat dengan ketidakpastian yang selama ini menjadi dasar dari hubungan cinta mereka. Ketidakpastian akan kebersamaan abadi itulah yang menjadi salah satu pemicu dari konflik yang dilanda oleh Kafka, dalam dirinya yang menjadi lebih parah ketika diproyeksikan pada hubungannya dengan Milena. Ketidakpastian, kecemasan, kesepian yang mendekati senyap sesenyap malam tanpa kunang-kunang, seringkali dekat dengan hidup Kafka. Dalam beberapa aspek, melihat hidup Kafka dari hubungannya dengan Milena seperti melihat tragedi yang hidup. Dan jika meminjam kata-kata Sosiawan Leak dalam sajak Tragedi, “…hanya merasakan keheningan yang cekam, kesepian yang tajam, saat kilau sebilah pisau mantul risaumu, digenggam sosok berwajah kelabu.”

Seperti yang ditulis pada biografi tentangnya, Kafka ditulis sebagai seorang yang sangat bijak dan penuh dengan pertimbangan, murah hati, akan tetapi hidupnya tak ubahnya sebuah tenunan surealis dari pemikiran serta kegelisahannya yang teramat sangat. Ia selalu berusaha menganalisa segala macam kemungkinan hingga tak ada lagi satu kemungkinan pun luput dari pemikirannya. Hingga pada suatu ketika, setelah pertemuan mereka secara fisik di Vienna, ia akhirnya memutuskan untuk mengakhiri segala hal yang pernah diukir bersama Milena;

“Don’t write and avoid meeting me, just fulfill this request for me in silence, it’s the only way I can somehow go on living…”

Dari sini ia meminta tanggapan sunyi dan hening dari Milena. Untuk tidak menanggapi surat-suratnya. Dan mulailah sebuah akhir dari kisah mereka.

Dari kaca mata Milena pun tak kalah menarik rupanya. Selepas Kafka meninggal, ia menulis obituari Kafka dengan emosi yang kuat pada tiap kata, hingga seolah terdapat roh yang mendesak untuk keluar dari tiap kata tersebut. Baginya, karya Kafka sungguh menakjubkan, terlebih lagi hidupnya. Karena ia melihat hidup dari kaca mata yang sama sekali berbeda dari orang kebanyakan. Karya Kafka, bagi Milena merefleksikan sebuah ironi dan visi kenabian seorang manusia yang dikutuk untuk melihat kejelasan dunia yang membutakan, yang baginya sangat tidak tertahankan hingga menyebabkan kematian. Oleh karenanya, bagi Milena, Kafka tidak akan bertahan hidup. Karena beban serta derita yang dilanda sekaligus dipeliharanya, menjadi salah satu penyebab sakit fisiknya yang berujung kematian. Semua orang akan mati pada akhirnya. Hal itu adalah niscaya. Akan tetapi pada Kafka, beban cemas itu terlalu berat untuk disangga seluruh hati dan jiwanya, hingga separonya perlu dibebankan pada paru-parunya. Kafka merupakan seorang yang senantiasa menyimpan sambil memelihara sedih dan cemas. Ia seorang yang, bagi Milena, pemalu, lembut serta memiliki kebaikan yang tiada tara, akan tetapi ia menghasilkan tulisan yang membuat ngeri, getir sekaligus sakit tak terperi. Dan yang paling dahsyat dari yang disampaikan oleh Milena ialah bahwa Kafka memahami dunia dengan cara yang sangat mendalam dan menembus batas normal. Kafka sendiri adalah dunia yang sangat dalam dan menembus batas normal. “He knew the world in a deep and extraordinary manner. He was himself a deep and extraordinary world.”

Dari Kafka kita dapati ironi dalam diri yang selalu bernegosiasi tanpa henti. Barangkali Milena hanya sebuah ode yang hidup dalam hati dan pikiran Kafka. Begitu pula Kafka bagi Milena.

Ini bukanlah kisah cinderella yang tuntas pada akhir cerita. Karena kita pun dibawa pada sebuah tanya yang lainnya, “Mengapa Kafka, Milena?”

 

Cerita Sekenanya #2

Posted in pernah jalan-jalan by Lisistrata on July 14, 2010

Parade gay dan sepeda kota

Dari pesta piala dunia hingga kolsch, pink elephant dan fruit romance di kedai cocktail favorit teman saya di Cologne. Paginya sedikit hangover, namun keliling kota tetap berjalan sesuai rencana. Kebetulan, dan memang sudah saya rencanakan untuk menginap di Cologne pada saat Christopher day, semacam gay parade. Harinya para gay, lesbian, transeksual. Mereka berpawai untuk mengkampanyekan keberadaan mereka dan mengingatkan bahwa ini hanyalah persoalan orientasi seksual, atau preferensi, bukan penyimpangan. Karena tidak semua warga Jerman mau menerima keberadaan mereka. Seperti layaknya karnaval dan kampanye, mereka membagi-bagikan kondom untuk menghindari penyakit menular seksual, permen, dan asesoris yang menyuarakan kaumnya.

Partai politik pun tak lupa turut serta, yang religius sayap kanan pun ikut mendukung mereka supaya diterima masyarakat pada umumnya. Tidak heran, parpol gitu loh. Kepentingan massa juga yang bermain (sok tau banget lisis ini.)

Parade gay selesai, kami melanjutkan keliling kota dengan sepeda, menyusuri sungai, berhenti untuk ice cream, dan jus apel. Lanjut lagi untuk berjemur, dan ice cream lagi :9.

Kemudian menyeberangi salah satu jembatan di kota yang dipenuhi dengan gembok di pinggirannya. Konon, jika pasangan memasang gembok di jembatan tersebut, kemudian membuang kuncinya di sungai, akan abadi lah cinta mereka.. haha.. mitos dimana-mana, bahkan di Eropa, renaissance kan masa lalu?? J

Dan tak lupa kami mengunjungi katedral Cologne super besar yang terkenal itu. sedang ada misa, tidak bisa keluar masuk seenaknya. Tapi memang super besar katedralnya. Kebesarannya cukup membuat terkesima. Jadi berasa seperti turis gumunan L.

Hari kedua di Cologne, hari terakhir kami bertemu satu sama lain. kami akhiri hari dengan makan masakan Spanyol, tapas. Setelah pas hari pertama kami makan masakan Jerman, yang rasanya tak jauh beda dengan masakan di negri lainnya. Babi pula. Beribu kalori masuk ke tubuh saya.

Tak puas dengan anggur Spanyol di restauran tapas, kami pun lanjut ke coktail bar di area pelajar, dan tak lupa segelas bir lokal, yang disebut ‘kolsch’, yang kami sebut “fluid bread”, karena bahannya sama dengan roti, jumlah kalorinya pun tak jauh beda.

Lalu berpisahlah saya dengan kedua teman saya keesokan harinya, untuk lanjut ke Berlin. Dimulailah petualangan saya yang sebenarnya. Karena selama dua hari di Cologne, saya merasa dimanja. Sampai-sampai saya tidak paham sistem transportasinya. Bayangkan saja, sudah berada di Jerman selama tiga hari, baru saya berkenalan, dan mulai meraba sendiri, setelah di Berlin, setelah tidak dimanja oleh kedua teman saya.

Cerita Sekenanya #10

Posted in pernah jalan-jalan by Lisistrata on July 14, 2010

Heading to the Unpronouncable city in Poland, Wroclaw.

Wroclaw, masih di Polandia. saya membacanya “Rock-law”. Tapi ternyata salah besar. Dan jika saya ditanyai oleh teman saya,”Mau ke kota mana lagi setelah ini?”, saya jawab saja,”to the unpronuncable city in Poland, around five hours from Krakow”.

Dan setelah saya baca buku pedoman perjalanan lokal, dengan tips-tips lokal (untuk menghindari Wisata, dengan “W” besar), ternyata Wroclaw, dibaca frot-swaf. Jauh sekali bedanya!!! Dan setelah itu jika ada yang menanyakan, saya menjawab dengan pede, “Frot-swaf”, dan giliran mereka yang tidak tahu. Karena selain unpronouncable, juga tidak turistis. Saya pun menyinggahi juga karena saya mendapat tiket penerbangan dengan harga terjangkau menuju Paris. Meski tidak mendarat di Paris, tapi pinggiran dekat Paris, untuk menuju rumah Arnaud (seorang Prancis yang sudah menjadi teman dekat dari teman2 saya di Jogja, yang bahkan belum pernah saya temui, tapi mau memberi tumpangan di Paris.hehe,..).

Sesampai di Wroclaw, seperti biasa, mencari tempat penginapan, yang kali ini letaknya sekitar 20 menit berjalan kaki dari pusat kota. 10 menit dengan tram. Hostel berada di kompleks mahasiswa. Sebenarnya memang asrama mahasiswa yang disulap menjadi hostel di musim panas. Sehingga saya bisa dapat dengan harga murah, cukup ruang dan sempurna  tenangnya. Sangat kondusif untuk beristirahat setelah perjalanan di beberapa kota. Dan suhunya juga sempurna, tidak perlu pake selimut ketika tidur, tidak perlu juga buka baju. Bangun siang pun tidak kepanasan.

Tapi memang cukup sulit untuk menemukan tempat ini, karena hostel dadakan, tidak ada yang tahu. Jadi memang tidak lucu lagi kadang kalau kesasar, dengan backpack seberat kurang lebih 15 kilo berjalan kesana kemari, dan jarang sekali orang berbicara bahasa Inggris lancar, meski mau membantu. Hampir setangha jam saya berjalan mencari hostel. Karena lelah, saya memutuskan untuk berhenti sebentar. Lalu sekitar sepuluh meter didepan saya, ada dua anak muda yang menyapa saya, “hei, apa kamu juga mencari hostel bla-bla-bla?”.  Spontan saya jawab “ya, hampir prustasi saya”. Mereka menjawab, “kami juga”.

Kami beristirahat sebentar, hingga ada seorang anak muda, mahasiswa yang tinggal di asrama sekitar menawarkan bantuan. “oke, kalian istirahat saja disini, saya akan carikan.”

Hanya beberapa menit, dia kembali lagi dengan berita gembira,”i’ve found it!”

”oh, senangnya”.

Saya dan dua orang muda, yang lelaki dari Prancis, perempuannya dari Bulgaria akhirnya satu kamar. Awalnya mereka menanyakan pada resepsionis apakah masih ada kamar dengan harga murah di hostel tersebut. lalu resepsionis hotel menjawab tidak. Lalu saya mengatakan, saya dapat kamar dengan harga itu, mungkin mereka bisa satu kamar dengan saya, dengan harga yang sama. Dan akhirnya disetujui oleh sang resepsionis.

Mereka bukan turis, datang ke Wroclaw untuk mendatangi tempat dimana sutradara favorit mereka pernah mempertunjukkan drama yang mereka suka. Setelah sebelumnya mereke mengikuti festival teater di kota lain, juga di Polandia.

Di Wroclaw, satu kamar dengan dua anak muda yang tenang, tidak ada turis di sekeliling saya. Tidak ada pemuda Irlandia yang suka pesta. tidak ada bar di lantai paling bawah. Meski bir tak terhindarkan, karena Carrefour letaknya hanya beberapa menit jalan kaki dari tempat penginapan.

Cerita Sekenanya #9

Posted in pernah jalan-jalan by Lisistrata on July 14, 2010

Krakow, you’re hot, i’m melting

Pada hari kesembilan perjalanan saya di belantara eropa, inilah hari terpanas. Di hostel yang saya pilih karena namanya (goodbye lenin) ini, saya tidak bisa bangun siang, karena jam tujuh pagi, matahari sudah membangunkan saya. Meski tidak berlaku pada teman sekamar saya yang berpesta semalaman dan pulang di pagi hari.

Karena hanya satu hari saya menyinggahi kota ini, saya pun menyerah pada buku panduan dan mempersiapkan dengan seksama rute yang saya kehendaki. Museum yahudi Galicia menjadi tujuan utama. Rupanya saya sudah cukup dan ‘baik-baik saja’ dengan pusat kota tua beserta hiruk pikuk turisnya. Meski itu juga jadi tujuan akhir saya, namun yang pertama ialah museum yahudi Galicia.

Tidak salah pilihan saya. Museum sederhana ini sangat kontras dengan hingar-bingar anak muda, terutama yang datang sebagai turis untuk berpesta dan vodkanya. Memang warung vodka di Krakow kali ini sering sekali saya jumpai, tidak seperti di Warsawa, Krakow memang tempat berpesta. Dan hostel tempat saya menginap rupanya memang hostel, garden dan pub yang bisa dijumpai di basement. Bir Polandia pun tidak terhindarkan kalau seperti ini (jika ini dibaca sebagai upaya saya membenarkan untuk minum bir, saya tidak keberatan..hihihi…).

Meninggalkan kompleks Yahudi, saya menuju Kastil Wawel, dan katedral bla-bla-bla.. yang jelas, tempat tinggalnya kaum bangsawan dulunya. Bangunannya tinggi seperti biasa. Dan juga kali ini bagi saya biasa saja. Bangunan-bangunan di Eropa, tinggi-tinggi, besar-besar,. (beginilah cara saya menggambarkan arsitektur yang saya temui, monoton, bukan arsitek gitu loh). Memang saya tidak pintar bercakap dengan gedung dan bangunan tua, kurang data sebenarnya L. Meski baca-baca tetap saja tidak banyak yang terekam. Mungkin memang bukan ketertarikan saya. Apa boleh buat.

Malam harinya saya pulang dengan kaki terpincang.,’fuckin’ tired’. Krakow yang tidak relatif besar ini memang mudah dijangkau dengan hanya berjalan kaki, juga banyaknya taman di tengah kota membuat jalan pun semakin nyaman, tidak terlalu kepanasan. Tapi karena jalannya berjam-jam, supaya puas. Alhasil, kaki kempor, pegel betul.

Sesampainya di kamar hostel, masih panas. Dan sudah ada seorang muda lagi rupanya. Seorang mahasiswa Prancis, yang suka pesta dan piala dunia, ketika saya tanyakan alasannya,”karena kebanyakan suka, maka saya ikut saja”. Tapi cukup ramah dan lumayan untuk dijadikan teman ngobrol, dari pada merasakan sakitnya kaki.

Entah mengapa malam terakhir saya di Krakow membuat saya sedikit sensitif. Bar di lantai paling bawah sudah ramai. Semua menunggu pertandingan sepak bola. Saya pun hanya mengambil segelas bir, ngobrol sedikit dengan beberapa orang di sekitar, lalu kembali ke kamar, membuka laptop, online, dan masih meneruskan segelas bir lainnya, karena teman sekamar saya yang lainnya juga datang membawa segelas, itupun saya habiskan juga. Panas sekali malam terakhir di Krakow!! mungkin saya terbuat dari coklat, dan malam itu saya mencair.

Cerita Sekenanya #8

Posted in pernah jalan-jalan by Lisistrata on July 14, 2010

Di mantan ibukota Polandia

Jika dibandingkan dengan Belanda, Jerman, kemudian Praha, sistem transportasi di Polandia secara umum tidak sebaik di tempat-tempat yang saya sebutkan diatas. Selain kurang bersih, juga tidak tepat waktu. dari yang dijadwalkan, seharusnya perjalanan dari Praha menuju Krakow, cukup ditempuh selama enam jam. Namun karena keterlambatan, saya harus menempuh perjalanan selama delapan jam. Sesampainya di hostel pun saya sudah lelah. Padahal malam minggu, saat teman sekamar saya lainnya sudah siap berpesta, saya lelah dihajar perjalanan jauh. Saya hanya sekedar keluar untuk mencari buah dan makan malam. Ajakan pesta pun saya tolak, dan saya tidur nyenyak.

Kalau dipikir-pikir, Polandia tidak begitu ramah menyapa saya. Karena ini kali kedua saya menginjakkan kaki di negri ini, setelah sebelumnya di Warsawa. Namun, saya masih saja senang mendekati yang buas-buas tidak ramah seperti ini, karena kadang memang seksi. 😀

Cerita Sekenanya #7

Posted in pernah jalan-jalan by Lisistrata on July 14, 2010

Memenuhi Undangan Kafka

Hari ketiga di Praha, dengan agenda yang lain dari hari sebelumnya, supaya melihat semua kota. Dan kebanyakan detail dari hari ini sudah saya tuangkan di tulisan saya yang lain. dari kastil hingga museum Kafka yang sederhana, namun bisa menyajikan kekelaman hidup seorang penulis yang mengidap TBC di masa muda, inferior pada masa kecil, dan penuh dengan benturan serta kontradiksi pada masa tuanya.

Malam harinya, setelah makan malam lagi bersama Rina, namun di restauran vegetarian yang lain namun masih dengan kata pengantar menu yang menarik, yang membiarkan para pertapa dan biksu untuk makan dengan Cuma-Cuma, mereka sebut orang-orang itu dgn sebutan “orang-orang tercerahkan”., kemudian kami meneruskan untuk menikmati makanan penutup di tempat lain, dan kini bukan vegetarian. Dengan blueberry cake dan ice cream.. nyummmm.. tidak ada beer ataupun vodka.

Sesampainya di hostel,meski sudah sangat larut saya sempat berbincang dengan gadis muda yang belakangan saya ketahui namanya Jay, seorang Inggris, yang sudah saya tebak dari aksen bicaranya semenjak kami satu kamar di Berlin. Kini kami satu hostel lagi di Praha. Kadang memang seperti itu, sempit sekali dunia.